Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan
Memangnya siapa kita ?

Memangnya, Siapa Kita?
Akan selalu bertemu kecewa, saat kita berharap
dalam sekejap, dapat merubah karakter suami
sebagai pasangan hidup, sesuai keinginan kita.
Memangnya, siapa kita?
Kita bukan ayah ibunya yang telah mengasuhnya
seperempat abad lebih. Ayah ibunya tak pernah
menuntutnya untuk menjadi sesiapa, cukup menjadi
seorang anak lelaki yang baik saja. Sedang kita,
baru menikah dengannya seumur jagung, tapi
tuntutan padanya kadang berderet panjang seperti struk belanja bulanan.
Kita juga bukan saudara kandungnya yang punya
hubungan darah kekal selamanya. Saudara
sekandung yang bisa beradu argumen atau berantem
sedemikian rupa, tapi tak lama akan akur kembali
dan tetap menjadi saudara hingga maut
memisahkan.
Kita ini ‘hanya’ diikat tali mitsaq al ghalidza, halal
karena pernikahan. Dan itu sifatnya temporer,
tergantung pada kemauan kita, akan
mempertahankan tali kasih itu, atau tidak.
Bukankah perceraian banyak terjadi bukan hanya
karena soal-soal yang prinsip, tapi juga soal yang (kita anggap) sangat sepele? Sungguh, tali kasih itu
sangat mudah untuk diputuskan, jika kita tidak
berusaha mempertahankan.
Memangnya, siapa kita?
Berharap suami menjadi pasangan sempurna
sedemikian rupa, sementara kita sendiri jauh dari
sempurna? Berharap suami menjadi pasangan yang
sholih, selalu mengayomi, banyak mengajarkan
ilmu, dan setia. Tapi ternyata mendapatkan suami
yang tegas, sangat sibuk di luar rumah, jarang punya kesempatan membantu aktivitas rumah tangga.
Harapan yang begitu tinggi menjulang, lalu terbentur
kecewa dengan kenyataan.
Tapi sungguh kita lupa untuk melihat ke dalam,
‘look from within’. Ah, kita ini sibuk melihat
kekurangan pasangan, sementara kekurangan
sendiri tak berbilang.
Memangnya siapa kita? Begitu aqad nikah
diiqrarkan, langsung merasa dialah suami pasangan
jiwa milik kita? Hingga kita menangis sedih saat
suami harus pergi berdakwah beberapa lama.
Hingga kita merasa tak dipedulikan saat suami
pulang larut malam padahal untuk mencari nafkah bagi kita dan keluarga?
Hey, kita ini hanya dititipi, dan kapan saja dapat
diminta-Nya kembali. Kita tak pernah benar-benar
memiliki: pasangan hidup, anak-anak, bahkan diri
kita sendiri. Kita ini cuma peminjam, yang sering
masih merengek-rengek minta dipinjami yang lebih
baik lagi. Ah, peminjam yang tak tahu diri.
Memangnya siapa kita? Merasa tersia-sia dan
menangis berdarah-darah saat perhatiannya terbagi.
Hingga kita merasa iri saat suami membangunkan
ibu kandungnya sebuah rumah. Hingga kita merasa
dia tak peduli karena akhir pekan dia kerap sibuk
dengan kegiatan dakwah bersama teman-temannya?
Hey, kita cuma teman di sisa hidupnya, bukan
atasannya yang berhak marah-marah dan memecat
siapa pun yang tak dia suka. Kita cuma teman
hidupnya, yang justru bisa ditalaq kapan saja andai
dia tak berkenan dengan perilaku kita lalu dia
murka.
Memangnya, siapa kita?
Makna Selembar Kain Yang Menutup Wajah

Makna selembar kain yang menutup wajah anggun itu, ia bukanlah tempat bersembunyi agar wajah pas-pasan tidak terlihat, bukan pula tempat menutup wajah cantik nan menawan, ia adalah kain penutup yang bermakna ketakwaan. Ketakwaan seorang wanita pada Allah dan Rasul-Nya, sebagai bentuk rasa berserah sang hamba pada-Nya.
Makna selembar kain yang menutup di wajah ini, ia bukanlah sarana untuk membanggakan diri agar terlihat lebih baik daripada yang lain, bukan pula alat untuk unjuk gigi agar disebut shalihah ketimbang yang tidak menutup muka, juga bukan benda yang difungsikan untuk pamer dan riya’. Ia adalah pakaian anggun yang mempunyai fungsi sebagai pengontrol, agar terkendali sikap ini berbuat
aniaya dan hina. Pengendali agar diri tidak terjerat pada ajang tebar pesona, entah di dunia nyata atau maya.
Makna selembar kain yang menempel di wajah ini, ia bukanlah kain yang dikenakan untuk tujuan meraup simpati, tidak juga untuk tebar pesona dan gengsi. Ia adalah kain yang mempunyai berlapis- lapis manfaat, agar terjaga pandangan ini, terjaga sikap ini pada lawan jenis yang bukan mahram, juga untuk melindungi diri dari gangguan manusia jahil.
Makna selembar kain di wajah ini, ia bukanlah alat untuk meneriakkan ‘aku wanita bercadar yang lebih baik dari kalian yang tidak bercadar’, tetapi ia adalah alat untuk menutup aurat dan membedakan jati diri muslimah dengan yang lain, yang dikenakan bukan untuk merasa lebih baik dari yang tidak bercadar. Ia adalah alat untuk mengukur diri, sudah benarkah sikap ini sebagai muslimah sejati? Juga sebagai alat untuk menahan diri dari kehidupan dunia gemerlap.
Makna selembar kain yang melekat di wajah ini, ia bukanlah kain yang cukup diartikan sebagai penutup wajah saja. Ia adalah kain yang hendaknya membuat diri pemakai semakin giat mencari tahu, kenapa harus mengenakannya, agar pemakai tidak jatuh pada taqlid/buta.
Makna selembar kain yang membalut diwajah ini, ia
bukanlah pertanda bahwa berarti pemakainya adalah manusia istimewa, tetapi dari kain itulah wanita belajar agar istimewa, menghindari pujian, menepis sanjungan, menolak simpati murahan.
By: Yulianna PS Penulis Kumcer “Hidayah Pelipur Cinta” [voa-islam.com]
Langganan:
Postingan (Atom)
Dua Empat September